Jumat, 11 November 2011

Tuhan cukup bagiku

Mazmur 103:5
Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.

Sebenarnya Tuhan telah memuaskan keinginan, kebutuhan, dan hasrat setiap anak-anakNya dengan kebaikan dan kasih sayangNya yang tak pernah habis. Ketika kita risau dan khawatir dengan keadaan kita, apa yang akan kita pakai, apa yang kita minum, apa yang kita makan, penerimaan terhadap orang lain, dsb itu semua sudah dan telah Tuhan sediakan. Tetapi seringkali kita sebagai manusia tidak bisa melihat terlalu dalam kebaikan dan kemurahan Tuhan sehingga kita terpuruk dalam pikiran dan kekhawatiran kita sendiri.
Saat Tuhan membukakan dan menyingkapkan keberadanNya yang sesungguhnya baru kita akan menyadari bahwa kita tidak perlu mencari-cari hal-hal yang kita tidak dapat di dunia ini karena sebenarnya Tuhan telah sediakan semuanya itu untuk kita.
Tuhan telah menerima anak-anakNya apa adanya...
Tuhan telah menyediakan bagi kita sesuai dengan kebutuhan kita...
Tuhan selalu memberikan dan melakukan yang terbaik untuk anak-anakNya...
Jadi, apakah keberadaan Tuhan itu tidak cukup bagi hidup kita?
Apakah penerimaan dari Tuhan tidak cukup bagi kita sehingga kita risau ketika kita merasa ditolak oleh manusia?

Pujilah Tuhan karena Ia telah menyatakan dan menyingkapkan satu berkat lagi untuk kehidupan kita.
Sedikit kutipan di bawah ini dapat menjadi perenungan ----
“… Karena Tuhan membuat saya bisa bersyukur untuk apapun yang saya miliki, juga bersyukur untuk apapun yang tidak bisa saya miliki. Ada suatu kepuasan yang Tuhan taruhkan di dalam hati saya. …” ~ dalam buku Maukah Engkau Sembuh? (Ev. Iin Tjipto) ----

Jumat, 04 November 2011

Titrasi Pengendapan


Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat; AgNO3.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
AgNO3 + NaCl → AgCl + NaNO3
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indikator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat (CrO42-) dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indikator adsorbsi. Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. Selain menggunakan jenis indikator diatas dapat juga menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen.
a)      Metode Mohr
Metode Mohr biasanya digunakan untuk menitrasi ion halida seperti NaCl, dengan AgNO3 sebagai titran dan K2CrO sebagai indikator. Titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna suspensi dari kuning menjadi kuning coklat. Perubahan warna tersebut terjadi karena timbulnya Ag2CrO4, saat hampir mencapai titik ekivalen, semua ion Cl- hampir berikatan menjadi AgCl. Larutan standar yang digunakan dalam metode ini, yaitu AgNO3.
Pada analisa Cl- mula-mula terjadi reaksi:
Ag+(aq) + Cl-(aq) ↔ AgCl(s)
Sedang pada titik akhir, titran juga bereaksi menurut reaksi:
2Ag+(aq) + CrO4(aq) ↔ Ag2CrO4(s)
       Pengaturan pH sangat perlu, agar tidak terlalu rendah ataupun tinggi. Bila terlalu tinggi, dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga titran terlalu banyak terpakai.
2Ag+(aq) + 2OH-(aq) ↔ 2AgOH(s)↓ ↔ Ag2O(s)↓ + H2O(l)
Bila pH terlalu rendah, ion CrO4- sebagian akan berubah menjadi Cr2O72- karena reaksi
2H+(aq) + 2CrO42-(aq) ↔ Cr2O72- +H2O(l)
Yang mengurangi konsentrasi indikator dan menyebabkan tidak timbul endapannya atau sangat terlambat.
Selama titrasi Mohr, larutan harus diaduk dengan baik. Bila tidak, maka secara lokal akan terjadi kelebihan titrant yang menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen tercapai, dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk kemudian; akibatnya ialah, bahwa titik akhir menjadi tidak tajam.
b)      Metode Volhard
Metode Volhard menggunakan NH4SCN atau KSCN sebagai titrant, dan larutan Fe3+ sebagai indikator. Sampai dengan titik ekivalen harus terjadi reaksi antara titrant dan Ag, membentuk endapan putih.
Ag+(aq) + SCN-(aq) ↔ AgSCN(s)↓ (putih)
Sedikit kelebihan titrant kemudian bereaksi dengan indikator, membentuk ion kompleks yang sangat kuat warnanya (merah)
SCN-(aq) + Fe3+(aq) ↔ FeSCN2+(aq)
Yang larut dan mewarnai larutan yang semula tidak berwarna.
Karena titrantny SCN- dan reaksinya berlangsung dengan Ag+, maka dengan cara Volhard, titrasi langsung hanya dapat digunakan untuk penentuan Ag+ dan SCN- sedang untuk anion-anion lain harus ditempuh cara titrasi kembali: pada larutan X- ditambahkan Ag+ berlebih yang diketahui pasti jumlah seluruhnya, lalu dititrasi untuk menentukan kelebihan Ag+. Maka titrant selain bereaksi dengan Ag+ tersebut, mungkin bereaksi pula dengan endapan AgX:
Ag+(aq) (berlebih) + X- (aq) ↔ AgX(s)
Ag+(aq) (kelebihan) + SCN- (aq) (titrant) ↔ AgSCN(s)
SCN-(aq)  + AgX (s) ↔ X-(aq) + AgSCN(aq)
Bila hal ini terjadi, tentu saja terdapat kelebihan titrant yang bereaksi dan juga titik akhirnya melemah (warna berkurang).
Konsentrasi indikator dalam titrasi Volhard juga tidak boleh sembarang, karena titrant bereaksi dengan titrat maupun dengan indikator, sehingga kedua reaksi itu saling mempengaruhi.
Penerapan terpenting cara Volhard ialah untuk penentuan secara tidak langsung ion-ion halogenida: perak nitrat standar berlebih yang diketahui jumlahnya ditambahkan sebagai contoh,  dan kelebihannya ditentukan dengan titrasi kembali dengan tiosianat baku. Keadaan larutan yang harus asam sebagai syarat titrasi Volhard merupakan keuntungan dibandingkan dengan cara-cara lain penentuan ion halogenida karena ion-ion karbonat, oksalat, dan arsenat tidak mengganggu sebab garamnya larut dalam keadaan asam.
c)      Metode Fajans
Apabila suatu senyawa organik berwarna diserap pada permukaan suatu endapan, perubahan struktur organik mungkin terjadi, dan warnanya sebagian besar kemungkinan telah berubah dan mungkin menjadi lebih jelas. Peristiwa ini dapat dipakai untuk mengetahui titik akhir dari titrasi pengendapan garam-garam perak. Senyawa organik yang dipergunakan demikian, disebut sebagai “indikator adsorpsi”.
Cara kerja indikator adsorpsi ialah sebagai berikut: indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organik yang dapat membentuk endapan dengan ion perak. Misalnya fluoresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida. Dalam larutan, fluoresein akan mengion (untuk mudahnya ditulis HFl saja).
HFl(aq) ↔ H+(aq) +Fl-(aq)
Ion Fl- inilah yang diserap oleh endapan AgX dan menyebabkan endapan berwarna merah muda. Karena penyerapan terjadi pada permukaan, dalam titrasi ini diusahakan agar permukaan endapan itu seluas mungkin supaya perubahan warna yang tampak sejelas mungkin, maka endapan harus berukuran koloid. Penyerapan terjadi apabila endapan yang koloid itu bermuatan positif, dengan perkataan lain setelah sedikit kelebihan titrant (ion Ag+).
Pada percobaan ini digunakan metode Mohr dan Volhard. Faktor-faktor penting yang   mempengaruhi kelarutan padatan kristalin antara lain :
1.      Suhu
2.      Pelarut
3.      Pengaruh ion senama
4.      Pengaruh ion tak senama
5.      Pengaruh pH
6.      Pengaruh hidrolisa
7.      Pengaruh kompleks

Flute


SEJARAH  DAN APRESIASI FLUTE


Flute merupakan alat musik tiup kayu. Flute tertua pertama kali ditemukan di Slovenia.kurang lebih berumur 43.000 tahun. Pada awalnya flute hanya memiliki dua atau empat lubang..
Kemudian di Jerman ditemukan kembali flute yang berumur 35.000tahun. Flute tersebut telah berbentuk corong yang terbuat dari tulang sayap burung.
Para peneliti yang telah menemukan flute tersebut, mengumumkan penemuan mereka dalam jurnal Nature pada bulan Agustus 2009. Pada saat mengumumkan penamuan tersebut para peneliti berkesimpulan bahwa manusia pada zaman tersebut telah memiliki kebudayaan yang baik dan berkembang. Para peneliti juga menjelaskan bahwa penemuan flute dapat memberikan kesimpulan bahwa ada kemungkinan manusia purba telah mengalami perkembangan serta kemajuan.
Ditemukan lagi flute dengan tiga lubang yang berumur kurang lebih 30.000 – 37.000 tahun, dengan panjang 17,8 cm yang terbuat dari Gading Mamouth serta flute yang terbuat dari tulang angsa, berumur kurang lebih 36.000 tahun. Kedua Flute tersebut ditemukan di Selatan Jerman pada tahun 2004.
Ada lagi flute dengan umur kurang lebih 9000 tahun dei provinsi Henan, Cina Tengah. Flute tersebut terbuat dari tulang sayap burung gagak.
Flute  melintang paling awal yang masih ada adalah chi ( ) flute ditemukan di makam Marquis Yi dari Zeng di Suizhou, provinsi Hubei, Cina . Flute ini berasal dari akhir zaman Dinasti Zhou 433 SM. Flute ini terbuat dari bambu dengan ujung tertutup dan memiliki lima lubang. Flute ini disebutkan dalam Si Jhing, disusun oleh Confucius, ilmuwan dari Cina.
Kemudian flute berkembang di berbagai daerah didunia seeperti di Eropa, India, China, dan Jepang. Flute dari masing – masing daerah tersebut memiliki karakter suara dan bentuk yang berbeda. Di Eropa ada beberapa bentuk perkembangan flute, seperti Germany flute, fife, dizi, bansuri dan Piccolo.
Sedangkan di India ada jenis flute yang disebut Carnatic. Lalu di China adapula jenis flute yang disebut “Di”, Xiao, Ney.  Dan di Jepang disebut Fue, danso, Shakuhachi, serta Anasazi flute.
Beberapa contoh gambar jenis jenis flute :
                          
flute



shakuhachi


mye_20


Instrumen Piano


INSTRUMEN PIANO



dA.    SEJARAH INSTRUMEN PIANO

Piano berasal dari kata pianoforte yang diambil dari bahasa Italia. seorang bernama Bartolomeo Cristofori pada tahun 1720-an membuat sebuah piano. Model tradisional pertama kali diciptakan pada tahun 1709. dengan nama “gravicembalo col pian e forte” dalam bahasa Italia (“harpsichord with soft and loud”), yang kira-kira berarti Alat Musik Hapsichord (yang bisa dimainkan ) dengan lembut dan keras. Prinsip kerja alat musik ini diambil dari prinsip kerja bilah kunci harpsichord and clavichord dikombinasikan dengan pemukul dan string dari alat musik “dulcimer”. Alat ini pertama kali diciptakan oleh Bartolomeo Cristofori, seorang pembuat harpsichord dari Italia.
Bartolomeo Cristofori terkenal sebagai perintis pembuatan piano. Dua dari ciptaannya yang terkenal masih tersimpan sampai sekarang, Pertama di Metropolitan Museum of Art, New York 1720. Dan yang kedua buatan tahun 1726 tersimpan di museum Leipzig, Germany. Pada awal mula diciptakan, suaranya tidak sekeras piano yang dapat didengar pada abad 20-an. Hal ini dikarenakan tegangan tuts piano saat itu tidak sekuat piano yang ada sekarang.
Piano sendiri lahir dari keinginan untuk menggabungkan keindahan nada clavichord dengan kekuatan harpsichord. Hasrat itu mendorong Marius dari Paris (1716), Schroter dari Saxony (1717), dan Christofori (1720) dari Padua, Italia, untuk membuat piano. Namun, hasil utuh dan lengkap cuma ditunjukkan Bartolomeo Christofori. Dari piano ciptaan pemelihara harpsichord dan spinet (harpsichord kecil) di Istana Florentine - kediaman Pangeran Ferdinand de’Medici - inilah piano modern berakar.
Pada pertengahan abad XVII piano dibuat dengan beberapa bentuk. Awalnya, ada yang dibuat mirip desain harpsichord, dengan dawai menjulang. Piano menjadi lebih rendah setelah John Isaac Hawkins memodifikasi letaknya menjadi sejajar lantai. Lalu, dengan munculnya tuntutan instrumen musik lebih ringan, tidak mahal, dan dengan sentuhan lebih ringan, para pembuat piano Jerman menjawabnya dengan piano persegi. Sampai 1860 piano persegi ini mendominasi penggunaan piano di rumah.

Rangka untuk senar piano pertama menggunakan rangka kayu dan hanya dapat menahan tegangan ringan dari senar. Akibatnya, ketika pada abad XIX dibangun gedung-gedung konser berukuran besar, suara piano tadi kurang memadai. Maka, mulailah dibuat piano dengan rangka besi. Sekitar tahun 1800 Joseph Smith dari Inggris membuat suatu piano dengan rangka logam seluruhnya. Piano hasil inovasinya mampu menahan tegangan senar sangat kuat, sehingga suara yang dihasilkan pun lebih keras. Sekitar 1820, banyak pembuat menggunakan potongan logam untuk bagian piano lainnya. Pada 1822, Erard bersaudara mematenkan double escapement action, yang merupakan temuan tersohor dari yang pernah ada berkaitan dengan cara kerja piano.
Notasi piano Dalam perkembangannya, sebelum memiliki 88 tuts seperti sekarang, piano memiliki lima oktaf dan 62 tuts. Ia juga dilengkapi dengan pedal. Semula pedal itu digerakkan dengan lutut. Namun, kemudian pedal kaki yang diperkenalkan di Inggris menjadi populer hingga sekarang.
Sejumlah pengembangan berlanjut pada abad XIX dan XX. Tegangan senar, yangg semula ditetapkan 16 ton pada tahun 1862, bertambah menjadi 30 ton pada piano modern. Hasilnya adalah sebuah piano dengan kemampuan menghasilkan nada yang tidak pernah dibayangkan Frederic Chopin, Ludwig van Beethoven, dan bahkan Franz Liszt.
Sebuah perkembangan nyata di abad XX (berawal di tahun 1930-an) adalah kehadiran piano elektronik (atau piano listrik), yang didasarkan pada teknologi elektroakustik atau metode digital. Nada suaranya terdengar melalui sebuah amplifier dan loudspeaker.
Dari sisi mutu suara, piano elektronik nyaris tak ada bedanya dengan piano biasa. Perbedaan terletak pada berbagai fitur yang melengkapinya. Fitur itu tentu tidak ada sama sekali dalam piano biasa. Misalnya, bisa dihubungkan dengan perangkat MIDI, komputer, alat rekam; memiliki pengatur volume, tusuk kontak untuk pendengar kepala; dan sebagainya.



B.     PERKEMBANGAN INSTRUMEN PIANO
Asal muasalnya, piano dikembangkan dari alat musik kecapi. Perbedaannya, kecapi dimainkan dengan dipetik. Sedangkan piano ditekan tuts-tutsnya.
Secara umum, piano termasuk ke dalam kelompok musik instrumental. Piano memproduksi suara dari getaran papan suara yang volumenya dapat diperkuat (dapat diatur besar kecilnya).
Secara luas, piano di dalam musik dapat menjadi performa pada nyanyian tunggal dan sebagai pengantar nyanyian solo. Dalam artian, piano dapat hidup dan mengiringi penyanyi tanpa bantuan atau iringan alat musik lain. Suara yang dihasilkan piano sudah dapat mewakili alat musik lainnya.
Meskipun demikian, piano akan lebih berarti lagi didengar dengan bantuan alat musik lain. Yang perlu ditekankan di sini, piano dapat mengalun indah tanpa bantuan alat musik lain. Tidak sama halnya dengan alat musik lain, yang kurang enak didengar tanpa dilengkapi piano. Banyak musik-musik instrumen yang bersinar karena andil dari piano.
Pada akhir periode 1790 sampai 1860, piano era Mozart mengalami perubahan yang hebat, dimana instrumen modern semakin terlihat memimpin. Pada revolusinya, piano banyak mendapat dukungan dari komposer dan pianis-pianis terkenal yang mengiringi perkembangannya. Sehingga piano dalam musik semakin memiliki power yang tinggi. Teknologi dalam pembuatan piano pun semakin menggunakan alat-alat berteknologi tinggi.
Dalam beberapa waktu, gaya suara piano meningkat. Dari 5 oktav menjadi 7 1/3 (atau bahkan lebih) oktav, ini menandakan piano semakin modern. Kemajuan teknologi ini banyak bersumber dari perusahaan di Inggris, Broadwood. Selama bertahun-tahun, instrumen buatan Broadwood mengalami perkembangan menjadi lebih banyak jenisnya, lebih baik suaranya, juga dikemas secara baik dan rapi.
Perusahaan Broadwood mengirim piano mereka kepada Hadyn dan Beethoven. Cakupan kemampuan piano yang mereka kirim itu lebih dari lima oktaf. pada tahun 1790an, tahun 1810 menyusul menjadi enam oktav, sampai pada tahun 1820 akhirnya menjadi tujuh oktav. Sampai-sampai banyak perusahaan pembuat piano mengikuti trend ini.
Bercerita tentang piano sama halnya seperti menceritakan seorang superstar. Seperti layaknya seorang superstar, piano yang terkenal itu juga banyak dikagumi berbagai kalangan. Piano bisa masuk dalam industri musik dan perfilman, yang dengan mudahnya dilihat dan didengar siapa saja.
Sejak tahun 1830-an, konser piano selalu di idolakan banyak penggemar musik. Setiap para pianis terkenal menggelar konsernya, kerap kali dipadati oleh para penggemar. Mereka selalu berbondong-bondong mengantri tiket konser piano seperti semut. Karena bagaimanapun juga, piano bisa masuk ke hampir seluruh musik terkenal.
Contoh pada ke-27 konser piano yang digelar Mozart. Konser ini benar-benar merupakan konser musik instrumental yang tanpa bantuan iringan penyanyi ternyata tetap dapat lebih dinikmati. Inilah kehebatan yang dimiliki alat musik piano. Permainan pada konser piano bisa terlaksana dengan baik secara solo (sendirian), duo (berdua), trio (bertiga), maupun kuartet (berempat). Hal ini telah dibuktikan sejak lama oleh para pianis terkenal seperti Mozart, Hadyn, Beethoven, Schubert, Schumann, Mendelssohn dan Brahms.
Salah satu peran piano dalam industri perfilman adalah sebagai alat musik yang mengiringi jalannya film tersebut. Dapatkah loe membayangkan jika film yang loe tonton tidak didukung oleh latar belakang musik? Piano sangat lekat dengan alur-alur cerita dalam film. Jika pada film itu ceritanya sedih, diputarkanlah alunan musik piano yang lagunya sedih atau melow, sedangkan jika film itu seru (misalnya film aksi), maka diputarkanlah musik yang membuat adrenalin naik. Kesemua ini senantiasa diperankan oleh piano.

  
C.    JENIS – JENIS PIANO
1.      Grand Piano

Inilah piano yang sebenar-benarnya. Berasal dari konstruksi kayu mengkilap, dengan tuts berjumlah 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Merk yang paling eksklusif dari jenis ini adalah Steinway, sedangkan yang biasa kita temui di Indonesia adalah Yamaha Grand Piano. Harganya sama dengan satu unit mobil mewah, 400 jutaan ke atas.


2.      Upright Piano

Masih di jajaran kategori piano akustik,  juga berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat. Jadi jika para peminat piano tidak terlalu punya tempat untuk meletakkan Grand Piano dan masih ingin menikmati suara dentingan piano akustik asli, upright piano bisa Anda pilih.

Piano akustik, untuk mendapatkan kualitas yang prima memerlukan perawatan yang sangat merepotkan. Selain suhu tertentu diperlukan untuk menjaga ketegangan senar-senar nada piano, setiap kali piano model ini dipindahkan, nada-nadanya harus di tune ulang



3.      Synthetizer
Adalah sebuah terobosan Kawai dan Yamaha yang memperkenalkan synthetizer pada tahun 80-an. Sebuah sampling suara piano memungkinkan bunyi piano dihasilkan dari alat-alat elektronik yang dialiri listrik. Teknologi synthetizer berkembang sehingga digital piano sendiri memiliki kategorisasi tersendiri: digital piano, keyboard, dan synthetizer.

Digital piano ditandai dengan rentang nadanya yang sama dengan piano akustik biasa, yaitu sepanjang 88 nada. Model tuts-nya masih menggunakan tipe gradded-hammer, atau efek yang Anda rasakan ketika menekan tuts piano. Berat, dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Model yang paling populer di panggung contohnya adalah Roland RD-700 atau RD-300,  sedangkan untuk pengguna rumahan, Yamaha seri Clavinova adalah contoh yang paling populer.

4.      Keyboard

Apa beda dengan digital piano? Hal pertama yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan , melainkan model . Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa dirasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan, dan rasanya seperti menekan plastik tanpa sensasi menekan tuts piano akustik. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Memotong nada atas dan nada bawah piano, dan menyisakan nada tengahnya saja.
Tetapi kelebihan keyboard adalah kemampuannya menghasilkan suara bermacam-macam alat musik. Ia juga memiliki kemampuan untuk memainkan irama dengan variasi yang banyak, sehingga kita bisa bermain diiringi sebuah band lengkap dengan bantuan hanya satu unit keyboard saja.


Keyboard model seperti paling sering muncul di hajatan seperti pesta pernikahan. Orang awam sering menyebutnya musik . Dengan memainkan suatu (iringan nada-nada berbagai alat musik dalam satu band yang disimpan dalam format MIDI) pada keyboard, pemain keyboard cukup memainkan melodinya saja dengan bunyi-bunyi tertentu, sambil menekan yang bersesuaian. Jauh lebih murah dan praktis daripada harus mendatangkan satu band lengkap. Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.
Seperti namanya, alat ini adalah pembuat suara buatan yang handal. Hal yang paling kelihatan mencolok adalah rentang nadanya yang mungkin hanya dua oktaf saja, memiliki banyak panel-panel instrumen seperti , dll pada papan keyboardnya. Alat ini memang ditujukan untuk membuat style, dan mengaransemen sebuah lagu. Sebuah aransemen dibuat dengan alat ini satu demi satu — atau istilahnya layer demi layer. Pola-pola instrumen drum, gitar, bass, dan variasinya ketika masuk chorus, bridge, atau coda dibuat satu per satu. Ketika sudah jadi, semua layer digabungkan menjadi satu menjadi sebuah aransemen musik yang bisa dimainkan oleh keyboard.


mye_20

Kamis, 03 November 2011

for example


Aktivitas Total Antioksidan Buah Pepaya Gunung (Carica pubescens)
Ditinjau dari Pengaruh Suhu dan Masa Panen 

1.      PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sayuran dan buah-buahan telah digunakan sebagai bahan-bahan alami untuk menjaga kesehatan manusia karena dapat membantu mengurangi resiko dari banyak penyakit degeneratif yang berkaitan dengan usia. Banyak buah-buahan segar dan sayuran ditemukan mengandung antioksidan alami, terutama senyawa fenolik seperti asam ferulat, katekin, dan asam askorbat (vitamin C) (Long, 2010). Antioksidan didefinisikan sebagai inhibitor yang bekerja menghambat oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif yang relatif stabil . Antioksidan bertindak dengan satu atau lebih dari mekanisme berikut: mereduksi aktivitas radikal bebas, penangkapan radikal bebas, berpotensi membentuk kompleks logam pro-oksidan dan quenching oksigen singlet (Tachakittirungrod et. al., 2006).
Pepaya gunung (Carica pubescens) atau sering disebut dengan pepaya mini merupakan sumber antioksidan alami yang diperlukan tubuh. Pepaya mini ini tumbuh berkembang normal dan menghasilkan buah yang baik di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Buah ini merupakan buah konsumsi lokal dalam jumlah terbatas. Menurut Carrasco (2008), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kandungan senyawa fenolik total buah ini cukup tinggi yaitu 167 mg ekivalen asam galat/ g buah serta kandungan vitamin C (asam askorbat) yaitu 31,41 mg/100g. Asam askorbat merupakan antioksidan yang efektif karena mampu menangkap radikal bebas; seperti superoksida dan 1-diphenil-2-picrilhidrazil (DPPH), dibanding dengan senyawa flavon (naringin dan hesperidin) serta β-kriptoxantin (Kondo et.al., 2005).
Aktivitas antioksidan pada buah umumnya menurun seiring dengan kematangan buah (Srilaong and Tatsumi, 2003). Untuk mengatasi hal tersebut kebanyakan buah pascapanen disimpan dalam suhu yang rendah. Penyimpanan pada suhu rendah dapat mengurangi kegiatan respirasi dan metabolisme, memperlambat proses penuaan, mencegah kehilangan air dan mencegah kelayuan. Tetapi hal ini juga bergantung pada spesies buah tersebut, Wang (2009) di dalam penelitiannya menunjukkan bahwa buah raspberry merah yang setengah masak memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi daripada buah yang masak, sedangkan Sáenz (2010) menyatakan bahwa buah delima yang lebih matang memiliki kandungan fenolik dan kapasitas antioksidan lebih besar daripada buah mentah. Sehingga dalam hal ini diperlukan penetapan masa panen yang optimal untuk memaksimalkan potensi antioksidan dan dengan demikian meningkatkan kualitas buah selama penyimpanan pascapanen.
Di Indonesia, studi pemanfaatan buah pepaya gunung (Carica pubescens)  dan penetapan kadar senyawa antioksidan yang terkandung dinilai masih sangat kurang. Padahal, apabila buah ini dapat dikembangkan maka secara signifikan pastilah hal ini akan membawa dampak positif, baik bagi lingkungan, kesehatan dan perekonomian.

1.2  Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
·        Menentukan nilai aktivitas total antioksidan pada buah papaya gunung (Carica pubescens).
·      Mengidentifikasi hubungan antara aktivitas total antioksidan dan penyimpanan buah pada suhu rendah berdasarkan masa panen buah pepaya gunung (Carica pubescens).

Rabu, 02 November 2011

Pengukuran Kesadahan (Titrimetri)


Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral. Titrasi kompleksometri merupakan titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Kompleksometri juga dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA.
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asam etilena diamina tetra asetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen – penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul. Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut dititrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut.
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen.
Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator EBT (Eriochrome Black T). Kelat logam terbentuk dengan molekul EBT dengan kehilangan ion hidrogen dari gugus –OH fenolik dan pembentukan ikatan antara ion logam dan baik atom-atom oksigen maupun gugus azo. Molekulnya biasanya dinyatakan dalam bentuk singkatan sebagai asam tribasik H3In. Kebanyakan titrasi EDTA dilakukan dalam buffer dengan pH 8 sampai 10, yaitu batas jangkau indikator EBT (Eriochrome Black T) dengan brntuk HIn2- yang berada dalam jumlah terbanyak. Reaksi yang menyebabkan perubahan warna dapat dituliskan:
MIn-   +   HY3-   Û   MY2-   +    HIn2-
                                     Merah                                             Biru
Agar perubahan warna terjadi pada harga pM yang sesuai maka stabilitas kompleks MIn- harus lebih kecil dari stabilitas MY2- sehingga logam melepaskan indikator apabila hanya sedikit berlebihan EDTA ditambahkan.
Air yang mengandung ion Ca2+, Mg2+, dan atau Fe3+/Fe2+ dikenal sebagai air sadah tetap. Sedangkan air yang mengandung ion HCO3- disebut air sadah sementara. Kerugian air sadah adalah mengganggu pembentukan busa sabun karena terbentuk endapan dengan ion stearat yang ada dalam sabun.
Ca2+ + 2 C17H35COO-  →  Ca(C17H35COO)2
Sedang kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan pendidihan sehingga air tidak mengandung ion Ca2+ lagi karena terbentuk endapan.
Ca2+ + 2 HCO3-  →  CaCO3 + H2O + CO2
Kesadahan tetap adalah besarnya kadar Mg2+ atau Ca2+ dalam air sadah. Bila ditentukan jumlah kedua kation, maka dapat ditentukan kesadahan tetap dan juga kesadahan parsial, yaitu kadar Mg2+ atau Ca2+ saja. Pada penentuan kesadahan contoh air sadah, diperlukan sedikit modifikasi dari cara titrasi langsung Mg-Ca murni, karena air dari alam sering dijumpai pengotoran oleh ion besi dan logam – logam lain. Bila digunakan EBT atau Calmagite sebagai indikator, maka akan terjadi blocking indikator oleh ion besi karena bereaksi secara irreversibel. Oleh karena itu digunakan buffer pH 10 yang dapat menyingkirkan ion besi sebagai endapan (mengendapkan ion besi) bila jumlahnya kecil. Sedangkan bila jumlahnya lebih banyak maka digunakan natrium sianida untuk mencegah gangguan oleh ion besi maupun ion tembaga.
Kesadahan air dapat ditentukan dengan titrasi kompleksometri. Larutan ion Mg2+ dan ion Ca2+ dititar dengan larutan EDTA dan digunakan indikator EBT (Eriochrome Black T). Pertama-tama EDTA akan bereaksi dengan ion Ca2+ ,kemudian dengan ion Mg2+ dan akhirnya dengan senyawa rangkai Mg-EBT yang berwarna merah anggur. Titik akhir pada pH 7-11, dengan adanya perubahan warna dari merah anggur menjadi biru yang berasal dari larutan penunjuk yang bebas. 
 
;